Jl. Kudus Colo Km. 5, Belakang Taman Budaya Bae Krajan, Kudus
Home » » Utsman bin Affan, Hidup Miskin di Atas Tumpukan Dinar

Utsman bin Affan, Hidup Miskin di Atas Tumpukan Dinar

“Tidak akan membahayakan kepada Utsman apa yang dilakukannya setelah hari ini.” (HR at-Tirmidzi)

Kalimat di atas disabdakan oleh Rasulullah Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam seraya membalikkan tumpukan dinar yang diletakkan oleh Utsman Radhiyallâhu ‘anhu di pangkuan beliau. Saat itu, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam betul-betul membutuhkan dana yang besar untuk menyiapkan pasukan dalam rencana invasinya ke Romawi. Sabda itu memberikan garansi yang mutlak: bahwa kedermawanan mengantarkan Utsman ke surga.

Utsman bin Affan menampakkan ciri khas kehidupan sufistik yang sedikit berbeda dari tiga khalifah lainnya. Beliau adalah khalifah yang kaya, tak seperti tiga khalifah lainnya yang hidup dalam kemiskinan. Tasawuf beliau adalah tasawuf basth (dalam kesejahteraan), bukan tasawuf qabdh (dalam kesengsaraan).

Tasawuf kesejahteraan lebih jarang terjadi, karena biasanya fokus terhadap Tuhan membuat seseorang tidak begitu peduli dengan urusan-urusan duniawi. Selain itu, tumpukan harta membuat tanggungan hisab di akhirat menjadi lebih panjang dan berat. Maka, oleh karena itu, tasawuf lebih sering bersanding dengan kehidupan miskin. Tantangan kemiskinan dalam tasawuf masih lebih ringan dibanding tantangan kekayaan.

Sayidina Utsman bin Affan memilih tantangan kaya. Lebih berat, tapi bagi beliau bisa lebih besar pahalanya. Ketika zuhud bersanding dengan kaya, maka yang muncul adalah kedermawanan yang luar biasa.

Dalam kisah-kisah sejarah disebutkan bahwa Utsman bin Affan memerdekakan budak setiap hari Jumat. Hal itu beliau lakukan sejak memeluk Islam sampai wafat. Bila dalam satu Jumat beliau tidak menemukan budak yang akan dimerdekakan, maka beliau mengkadainya pada Jumat berikutnya.

Beliau juga membeli Sumur Ma’unah yang menjadi salah satu sumber hidup utama para Sahabat di Madinah. Pembeli sumur Ma’unah telah mendapatkan garansi surga dari Rasulullah Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam.

Pada masa kekhilafahan Abu Bakar ash-Shiddiq, Sayidina Utsman pernah menggratiskan seluruh komoditi dagangnya yang konon diangkut dengan tujuh puluh ekor unta. Komoditi itu datang dari Syam pada saat Madinah dalam keadaan krisis pangan. Harga bahan makanan melonjak drastis. Sebagai pebisnis, beliau sama sekali tidak memanfaatkan peluang emas ini. Beliau menggratiskan seluruh komoditi itu. Berkat kedermawan Utsman ini, kondisi ekonomi di Madinah, akhirnya menjadi lebih stabil.

“Andai dalam Islam tidak terdapat celah yang dapat aku tutupi dengan kekayaanku, maka aku tidak akan mengumpulkan kekayaan itu”. Kalimat ini adalah ucapan Sayidina Utsman yang sangat terkenal dalam khazanah kesufian. Sejarawan tasawuf, Abu Nashr as-Sarraj, menjadikan ucapan beliau itu sebagai titik tolak untuk memahami tasawuf Sayidina Utsman.

As-Sarraj menyatakan bahwa Utsman bin Affan berada dalam maqâmus-shiddîqîn, derajat orang-orang yang memiliki keimanan yang sangat kuat, sehingga tidak terpengaruh oleh keadaan apapun. Ketika orang-orang shiddîqîn masuk ke dalam pintu kekayaan sebetulnya mereka keluar; ketika bersama sebetulnya mereka terpisah. Maka, salah satu ciri paling menonjol dari orang-orang shiddiqîn adalah ketahanannya dalam menghadapi ujian nikmat. Datang dan perginya kekayaan sama-sama tidak memiliki pengaruh apapun terhadap konsentrasi ibadah dan tawakkal mereka kepada Allah Subhânahu wata‘âlâ.

Meski memiliki harta yang melimpah, Sayidina Utsman hidup dengan sangat sederhana. Jubah yang beliau kenakan hanya seharga 4 dirham. Makanan yang beliau konsumsi juga sangat sederhana: roti yang seringkali tanpa lauk. “Utsman memberikan makanan istana kepada orang lain, tapi ia sendiri hanya makan cuka dan minyak zaitun,” demikian kata Syurahbil.

Statusnya sebagai hartawan dan penguasa tak sedikitpun mengganggu ketekunan ibadah beliau kepada Allah. Satu rakaat salat witirnya begitu panjang, sepanjang malam. Beliau menghatamkan al-Qur’an dalam satu rakaat witir itu, dalam setiap malam. 

Inilah yang mungkin dalam istilah orang-orang sufi disebut dengan karamah nasyruz-zamân (memperpanjang waktu). Orang yang mendapatkan karamah ini dari Allah bisa melakukan suatu perbuatan yang mestinya memakan waktu lama, dalam waktu yang sebentar. Menghatamkan al-Qur’an dalam satu rakaat witir merupakan sesuatu yang nyaris tidak mungkin dilakukan orang biasa, tapi bagi orang-orang yang dekat dengan Allah volume waktu bisa menjadi lebih luas dan lebih panjang dari ukuran rata-rata.

Beliau berpuasa sepanjang hidup. Sampai detik-detik menjelang beliau dibunuh oleh para pemberontak, beliau tetap berpuasa. Saat itu, beliau tak bisa mendapatkan seteguk air pun untuk berbuka. Rumahnya dikepung dengan ketat. Akses makanan dan minuman tertutup rapat. Tapi, beliau tetap tenang, tanpa kegelisahan dan ketakutan sedikitpun.

Inilah yang juga menjadi catatan penting bagi para peniti jalan tasawuf mengenai kehidupan Utsman bin Affan, yakni ketenangan beliau dalam menghadapi ancaman pembunuhan. Tak ada risau sedikitpun. Tetap membaca al-Qur’an dengan tenang, seperti tak terjadi apa-apa, saat para pemberontak menerobos rumah dan menghujamkan pedang kepadanya. Mushaf tetap di hadapannya. Tak ada satupun kata hardikan yang keluar dari mulut beliau.

Beberapa tokoh sufi memang tampak seperti menikmati kematian, seperti yang terjadi kepada Said bin Jubair dan al-Hallaj saat menghadapi eksekusi. Kematian hanyalah pintu untuk memasuki tahap hidup yang baru, bukan akhir dari kehidupan. Kematian adalah pembuka harapan, bukan monster yang menakutkan. Hal itu, karena orang-orang zuhud memandang dunia hanya seujung kuku, maka tak ada yang berat untuk ditinggalkan.


Sidogori net
Adv 1
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger