Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Topic Update »
Bagikan kepada teman!

Keadilan Sayyidina Umar dan Masuk Islamnya si Yahudi

Ketegasan, keadilan dan kewibawannya dibuktikannya ketika ia mendapat pengaduan dari seorang Yahudi tua yang merasa ditindas oleh Gubernur Mesir Amr bin Ash. Amr bin Ash sebagai veteran perang dalam menegakkan agama Islam, dikenal sebagai sosok pemberani, galak dan tegas. Sifat itu terbawa-bawa ketika Amr bin Ash pensiun sebagai Komandan Perang Pasukan Islam dan diangkat menjadi Gubernur Mesir. Sebagai seorang gubernur Amr bin Ash menduduki singgasana di istana yang mewah. Sementara di depan istananya ada sebidang tanah luas dan sebuah gubuk reyot milik Yahudi tua. Tanah tersebut dinilai Amr bin Ash sangat strategis untuk dijadikan pusat kegiatan syiar Islam, yakni masjid dan gedung pertemuan “Alangkah indahnya, jika di depan istana ini berdiri sebuah masjid yang mewah, sebagai lambing kemajuan Islam,” kata Sang Gubernur.

Tanpa berpikir panjang, Gubernur Amr bin Ash menyuruh ajudannya untuk memanggil Kakek Yahudi, agar menyerahkan tanah dan rumahnya untuk dijadikan masjid. Mendengar permintaan tersebut Kakek Yahudi terperengah, antara tidak mau menyerahkan, karena tanah dan gubuk reyot itu sebagai satu-satunya harta miliknya dan antara takut, karena kekerasan sikap Gubernur Amr bin Ash.

Dengan terbata-bata Yahudi itu menolak untuk memberikan tanahnya, walau sudah dihargai lima belas kali lipat dari nilai sebenarnya. Dengan kesal, Gubernur Amr bin Ash berkata, “Baik, jika itu keputusanmu, jangan menyesal jika negara merampasnya, tanpa ganti rugi, karena itu semua untuk kepentingan umum,” ujar Sang Gubernur

Pulang dengan perasaan sedih, karena tanahnya akan segera diratakan dan gubuk reyotnya akan segera dibongkar,  Kakek Yahudi itu berniat mengadukan perihal tersebut kepada Khalifah Umar di Mekkah. Melalui perjalan jauh, menggunakan unta tua Yahudi Tua itu akhirnya sampai di kediaman Khalifah yang sederhana, jauh dari mewah dibandingkan dengan istana Gubernur Amr bin Ash.

Dengan perasaan ragu, campur takut, karena dirinya merupakan kelompok minoritas yang biasanya selalu ditindas penguasa dan kelompok mayoritas,  Yahudi tua itu membeberkan persoalan yang dihadapi dan mengadukan tingkah laku semena-mena Gubernur Amr bin Ash, sekaligus meminta perlindungan dari ketidak adilan.


Mendengar keluhan Yahudi tersebut, muka Umar bin Khattab tampak merah padam, menahan marah. “Masya Allah, kurang ajar benar Amr itu, “ tutur Umar menahan marah dan menyuruh Yahudi mengambil sepotong tulang, lalu menggores tulang itu dengan pedangnya. “Berikan tulang itu kepada Amr Bin Ash, pinta Umar kepada Kakek Yahudi.

Begitu sampai di kota kediamannya Yahudi itu tercengang, karena gubuk reyotnya sudah rata dengan tanh dan di situ berdiri masjid mewah yang hampir rampung. Dengan rasa pesimis, takut pengaduannya malah membawa petaka lebih parah, Yahudi itu menyerahkan tulang tersebut kepada Sang Gubernur.

Setelah tulang tersebut diserahkan kepada Gubernur Amr, Yahudi tua itu kaget, karena dengan lantang sang Gubernur memerintahkan seluruh pekerja untuk menghentikan pembangunan masjid, sekaligus membongkarnya. Mendengar perintah Amr bin Ash yang menyuruh menghentikan pembangunan masjid yang sudah menghabiskan dana ribuan dinar itu, Yahudi itu semakin takut.


Dengan hati gemetar karena rasa takutnya belum hilang kakek itu meminta maaf kepada Gubernur, sambil meminta diterangkan apa arti semua itu, termasuk apa yang tersurat dan tersirat pada sepotong tulang.

Dengan hati legawa, Amr bin Ash berkata, tulang memiliki banyak arti dan makna. “Ketahuilah, tulang yang busuk itu merupakan peringatan, berapa pun  tingginya kedudukan seorang, tidak boleh sewenang-wenang, karena ia pasti akan menjadi tulang. Sedangkan goresan pedang berbentuk huruf “Alif” artinya harus adil ke bawah dank ke atas. Jika saya tidak bisa berbuat adil, Khalifah takkan segan memotong kepala saya,” kata Gubernur Amr.

Mendengar tutur Gubernur, Yahudi tua langsung memegang kaki Sang Gubernur, sambil berkata, sungguh agung ajaran Islam itu. “Bimbinglah saya untuk masuk Islam", pinta Yahudi sambil menangis dan dengan sukarela, menyerahkan tanah miliknya untuk dijadikan masjid.


Bernard Abdul Jabbar
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Berdoa di Makam Wali

Ada sebuah kitab berjudul Adab al-Du'a' al-Musamma Adab al-Murta'a fi 'Ilm al-Du'a, karya Imam Ibnu al-Mibrad, seorang ulama madzhab Hanbali yang hidup pada abad ke 10 Hijriyah. Kitab ini diterbitkan oleh Wahabi dan disebarluaskan di media online mereka. 

Dalam kitab tersebut pada halaman 183 dijelaskan:

Bagian tentang tempat - tempat dikabulkannya doa.

Hendaknya orang yang berdoa memilih tempat - tempat yang diharapkan doa dikabulkan. Hal tersebut telah datang dari sekumpulan para ulama. Diriwayatkan dari Syamsuddin Ibnu Abi Umar bahwa beliau banyak memohon terutama di tempat-tempat yang diharapkan doa dikabulkan.

Ibnu Rajab berkata dalam al-Thabaqat: Sesungguhnya berdoa di samping makam Utsman bin Musa al-Tha'iy itu dikabulkan.

Al-Hafizh Ibrahim al-Maqdisi rutin berdoa pada hari Rabu antara waktu zhuhur dan ashar di pemakaman para Syuhada' di pintu Shaghir.

Syaikh Abu Umar selalu berdoa di Maghratud Dam dalam shalat istisqa' yaitu shalat minta turun hujan, dan menghadirkan kaum wanita bersama beliau.

Demikian pernyataan Ibnu al-Mibrad, bahwa madzhab Hanbali dalam soal tabaruk dengan makam para wali dan orang shaleh, sama dengan masyarakat nusantara dan kaum nahdliyyin. 

Ajaran anti tabaruk di makam para wali adalah ajaran baru yang dibawa oleh Ibnu Taimiyah pada abad ke 8 Hijriyah dan dikultuskan sebagai pendapat kaum Salaf oleh Wahabi. 

Oleh karena itu, ajaran Wahabi itu terputus dari ajaran kaum Salaf. Mereka bukan Salafi, tetapi Taimiy (nisbah kepada Ibnu Taimiyah) dan Wahabi. Kitab di atas yang diterbitkan oleh Wahabi, adalah bukti terbaik atas penyimpangan mereka dari ajaran kaum Salaf yang shaleh. Ajaran kaum salaf jelas bertabaruk dengan makam para wali. Wallahu a'lam


Ust. Muhammad Idrus Ramli
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Nabi SAW Tetap Menyebut Pelaku Maksiat Sebagai Umatnya

Hukum syariat begitu jelas dan tegas. Siapa yang melakukan tindak kriminal, maka sesuai ketentuan Allah, had (hukuman) akan dilaksanakan. Diantara tindak kriminal yang akan mendapat had adalah pencurian. Sebagaimana dijelaskan dalam Al Quran bahwa hukuman pencuri adalah dipotong tangannya.

Pencurian kerap terjadi di masyarakat kita, tak terkecuali di zaman Rasulullah SAW. Suatu saat, seorang laki-laki dihadapkan kepada Rasulullah SAW karena telah mencuri. Setelah bukti dan saksi dihadirkan, maka tidak ada keputusan lain kecuali Nabi pun memerintahkan agar dia dipotong tangannya.

Namun apa yang disaksikan para sahabat?, setelah Nabi memerintahkan agar si pelaku dipotong tangannya justru beliau SAW memalingkan wajah sambil menangis. Kontan saja sikap ini menjadi tanda tanya para sahabat. "Engkau menagis wahai Rasulullah ?", tanya seorang sahabat.


Rasulullah SAW menjawab, "Bagaiamana aku tidak akan menangis, seorang umatku akan dipotong tangannya di hadapan kalian?". Sahabat bertanya kembali, "Lalu tidakkah anda memaafkannya (melepaskannya) dari hukuman ini?". Beliau menjawab, "Sungguh merupakan keburukan seseorang yang berusaha melepaskannya dari had (hukuman yang berlaku)" (HR. Abu Ya'la dari sahabat Ali bin Abi Thalib)

Hukuman tetap hukuman, harus ditegakkan dan dilaksanakan. Demikianlah kedisiplinan yang selalu dijaga oleh Nabi Muhammad SAW. Terbukti dalam riwayat diatas, walapun dengan kasih sayang yang begitu besar kepada umatnya, beliau tetap menjalankan hukum Allah sebagaimana mestinya.

Tidakkah anda melihat dengan seksama sabda beliau, ", seorang umatku akan dipotong tangannya di hadapan kalian?". Lihatlah bagaimana beliau tetap menyebut pelaku kriminal itu sebagai 'umatku'. Ya, bagaimanapun kemaksiatan dan perbuatan dosa yang dilakukan, dia tetap umat Rasulullah SAW. Apalagi dosa itu akan digugurkan karena sudah dijalankan had padanya.





Habib Sholeh bin Ahmad bin Salim Al Aydrus
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Hot Threads

Untaian Doa




Doa Nabi Khodir

ﻳﺎ ﻣﻦ ﻻ ﻳﺸﻐﻠﻪ ﺳﻤﻊ ﻋﻦ ﺳﻤﻊ

yaa man laa yusyghiluhu sam’un ‘an sam’in

ﻳﺎ ﻣﻦ ﻻ ﺗﻐﻠﻄﻪ ﺍﻟﻤﺴﺎﺋﻞ

yaa man laa tughlithuhul masaa`il

ﻳﺎ ﻣﻦ ﻻ ﻳﺘﺒﺮﻡ ﺑﺈﻟﺤﺎﺡ ﺍﻟﻤﻠﺤﻴﻦ

yaa man la yatabarromu bi ilhaahil malhiin

ﺃﺫﻗﻨﻲ ﺑﺮﺩ ﻋﻔﻮﻙ ﻭﺣﻼﻭﺓ ﺭﺣﻤﺘﻚ

adziqnii burda ‘afwika wa halaawata rohmatika

“Wahai Dzat yang tidak disibukan pendengarannya dengan
pendengaran lain.

Wahai Dzat yang tidak pernah salah memberi kepada banyak
orang yang meminta-minta.

Wahai Dzat yang tidak pernah bosan mendengar permintaan
hamba-Nya yang terus menerus(Fathul Baari)

Pengunjung ke-

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger