Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Selamat membaca »
Bagikan kepada teman!

Macam - Macam Sedekah Bag. 2

Banyak cara yang bisa kita lakukan dalam hidup ini agar kita termasuk ke dalam kelompok orang yang bersedekah, meskipun harta tidak kita miliki. Hal ini karena sedekah memang tidak hanya bisa dilakukan dengan memberikan harta kepada orang lain. Pada tulisan yang lalu, ada tiga bentuk sedekah yang bisa kita lakukan, yakni bekerja dengan tangan sehingga kita bisa memenuhi nafkah diri dan keluarga, membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan dan melakukan amar makruf nahi munkar. Melalui tulisan yang singkat ini, ada beberapa hal lagi hal yang harus kita lakukan dalam hidup ini untuk mendapatkan nilai sedekah.
 

1. Perkataan Yang Baik.
 

Berbicara merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan manusia. Karena itu, dunia ini tidak pernah sepi dari aktivitas berbicara. Adanya aktivitas berbicara membuat suatu kejadian bisa diinformasikan, ilmu pengetahuan bisa diajarkan dan nilai-nilai kebenaran atau kebaikan bisa disebarluaskan. Namun, dengan aktivitas bicara keburukan, kebathilan atau kemunkaran juga bisa diinformasikan, kesombongan bisa ditunjukkan dan permusuhan antar sesama manusia bisa terjadi di seluruh dunia.
 

Bagi seorang mukmin yang ingin memiliki kepribadian yang terpuji, ia akan selalu berusaha berbicara dalam kerangka kebaikan dan kebenaran. Karenanya, hal ini menjadi ukuran keimanan seseorang, dalam satu hadits Rasulullah saw bersabda:

  مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِا اللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ.
 

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam (HR. Bukhari dan Muslim).
 

Manakala seseorang sudah berbicara yang baik, maka ia telah menunjukkan salah satu manfaat dari keberadaannya sebagai manusia, sehingga berbicara yang baik termasuk dalam kategori sedekah yang pada dasarnya setiap kita bisa melakukannya. Rasulullah saw bersabda:

وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ
 

Perkataan yang baik adalah sedekah (HR. Bukhari dan Muslim).
 

Karena itu, bila manusia tidak bisa berbicara yang baik, disamping hal itu berbahaya bagi orang lain, sebenarnyan juga amat berbahaya bagi dirinya sendiri, karena memang dosa terbesar atau terbanyak dari sekian dosa yang dilakukan manusia adalah dosa yang bersumber dari lisannya, Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ أَكْثَرَ خَطَايَا اِبْنِ آدَمَ فِى لِسَانِهِ
 

Sesungguhnya kebanyakan dosa anak Adam berada pada lidahnya (HR. Thabrani).
 

2. Berlaku Adil.
 

Secara harfiyah, adil artinya meletakkan sesuatu pada tempatnya. Karena itu, adil adalah memberikan hak kepada setiap orang yang berhak dan menghukum orang yang bersalah sesuai dengan tingkat kesalahannya. Menegakkan keadilan merupakan salah satu perintah Allah swt yang sangat penting, sebagaimana firman-Nya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS An Nisa [4]:58).
 

Manakala kita bisa berlaku adil kepada orang lain dalam kehidupan ini, maka kitapun termasuk orang yang bersedekah meskipun harta tidak kita miliki, Rasulullah saw bersabda:

يَعْدِلُ بَيْنَ اْلإِثْنَيْنِ صَدَقَةٌ
 

Berlaku adil antar dua orang adalah sedekah (HR. Bukhari dan Muslim).
 

Bersikap dan bertindak secara adil memang menjadi sesuatu yang amat dibutuhkan. Dalam kehidupan manusia, baik satu orang dengan orang lain, kelompok dengan kelompok hingga negara dengan negara, kadangkala terjadi perselisihan, namun hal ini tidak boleh dibiarkan terus berlangsung. Karena itu, perselisihan harus ditengahi atau didamaikan oleh seorang penengah yang adil sehingga kedua kelompok yang bertikai dapat mewujudkan kedamaian, Allah swt berfirman: Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil (QS Al Hujurat [49]:9).
 

Namun, sebelum jauh melangkah untuk berlaku adil di tengah-tengah masyarakat, seorang muslim amat ditunjuk untuk berlaku adil terhadap anggota keluarganya sendiri, misalnya berlaku adil terhadap anak.
 

Apabila orang tua mempunyai anak, apalagi lebih dari satu, maka sebagai orang tua haruslah bersikap dan berlaku adil terhadap setiap anaknya itu, termasuk kepada anak yang berbeda jenis kelaminnya. Meskipun demikian, berlaku adil kepada anak bukanlah berarti sama jumlahnya dalam pemberian, tapi harus sesuai dengan tingkat kebutuhannya. Rasulullah saw bersabda:

إتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوْا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ
 

Bertaqwalah kepada Allah dan berlaku adillah diantara anak-anakmu (HR. Muslim).
 

Dalam hadits yang lain, Rasulullah saw juga bersabda:

 سَوُّوْا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ ِفى الْعَطِيَّةِ وَلَوْ كُنْتُ مُفَضِّلاُ أَحَدٌا لَفَضَّلْتُ النِّسَاءَ
 

Persamakan diantara anak-anakmu dalam pemberian, dan seandainya aku boleh memberikan kelebihan kepada salah satu diantara mereka, pasti akan aku berikan kepada anak peremuan (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
 

Selain berlaku adil kepada anak, seseorang juga harus berlaku adil kepada isterinya, apalagi bila beristeri lebih dari satu, baik adil dalam bentuk memberikan nafkah, pembagian waktu maupun perhatian, Allah swt menekankan hal ini dalam firman-Nya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya (QS An Nisa [4]:3).
 

3. Mendamaikan Orang Yang Bermusuhan.
 

Bermusuhan merupakan sesuatu yang sangat tidak menyenangkan dalam kehidupan kita. Jangankan bila hal itu terjadi pada kita, terjadinya pada orang lain saja membuat kita amat prihatin. Salah satu dampak negatif yang kita rasakan dari terjadinya permusuhan adalah tidak adanya ketenangan dan keamanan. Karena itu, permusuhan antar seseorang atau kelompok tidak boleh kita biarkan terus berlangsung, harus dilakukan upaya mendamaikan siapapun yang berselisih dan bermusuhan. Bila ini kita lakukan, maka kitapun akan mendapatkan salah satu dari sedekah yang paling utama, Rasulullah saw bersabda:

  أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ إِصْلاَحُ ذَاتِ الْبَيْنِ
 

Sedekah yang paling utama adalah mendamaikan orang yang bermusuhan (HR.Thabrani dan Bazzar).
 

Karena hal ini merupakan sedekah yang paling utama, maka mendamaikan orang yang bermusuhan menjadi sedekah yang paling disukai oleh Allah swt dan Rasul-Nya sebagaimana disebutkan dalam satu hadits:

  يَا أَبَا أَيُّوْبَ, أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى صَدَقَةٍ يُحِبُّهَا اللهُ وَرَسُوْلُهُ؟ تُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ إِذَا تَبَاغَضُوْا وَتَفَاسَدُوْا
 

Wahai Abu Ayyub, maukah kamu aku tunjukkan suatu sedekah yang Allah dan Rasul-Nya mencintainya?. Perbaiki hubungan antara manusia bila mereka saling benci dan merusak (HR. Thabrani).
 

Dengan demikian, semakin kita pahami betapa besar peluang kita untuk bisa bersedekah seandainya kita tidak punya harta untuk disedekahkan.
 



Drs. H. Ahmad Yani
Email: ayani_ku@yahoo.co.id
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Macam - Macam Sedekah Bag. 1

Secara harfiyah, sedekah berasal sari kata shadaqa yang artinya benar. Dari makna ini, bisa kita tarik kesimpulan bahwa kebenaran keimanan dan keislaman seseorang salah satunya harus dibuktikan dengan sedekah. Dalam Ensiklopedi Hukum Islam, jilid 5 hal 1617, definisi sedekah adalah: Pemberian dari seorang muslim secara sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu; suatu pemberian yang dilakukan oleh seseorang sebagai kebajikan yang mengharap ridha Allah swt dan pahala semata”.
 

Dengan demikian, salah satu yang harus dilakukan oleh kaum muslimin dalam hidupnya adalah bersedekah. Ini akan membuat keberadaannya terasa bermanfaat besar, tidak hanya bagi diri dan keluarganya, tapi juga bagi orang lain. Namun, banyak orang yang merasa tidak bisa bersedekah karena tidak banyak harta yang dimilikinya. Memang banyak diantara kita yang memahami bahwa sedekah itu mesti dengan harta, padahal banyak cara yang bisa kita lakukan untuk bersedekah meskipun kita tidak punya harta, sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mau bersedekah.
 

Karena itu, bagi kita yang tidak punya banyak harta jangan berkecil hati karena kita bisa bersedekah dalam banyak hal, sedangkan orang yang punya harta bisa bersedekah lagi dengan selain harta. Melalui tulisan ini akan kita bahas beberapa hal yang bisa kita lakukan sehingga kitapun tergolong orang yang bersedekah.
 

1. Bekerja Dengan Tangan.
 

Sebagai muslim, idealnya kita menjadi orang-orang yang dapat memberi manfaat kebaikan yang sebesar-besarnya kepada orang lain, karena itu setiap muslim harus berusaha dengan kerja tangannya agar minimal ia bisa memenuhi kebutuhan dirinya dan tidak menjadi beban bagi orang lain. Karena itu dapat memenuhi kebutuhan diri sendiri termasuk dalam kategori bersedekah, apalagi bila ia bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Dalam hadits dari Abu Burdah, Rasulullah saw bersabda:

عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ. قَالُوْا: يَارَسُوْلَ اللهِ اَرَاَيْتَ اِنْ لَمْ يَجِدْ؟. قَالَ: يَعْمَلُ ِبيَدِهِ فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقَ. قَالُوْا: اَرَأَيْتَ اِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ؟. قَالَ: يُعِيْنُ ذَا الْحَاجَةِ الْمَلْهُوْفِ. قَالُوْا: أَرَأَيْتَ اِنْ لَمْ يَفْعَلْ؟. قَالَ: يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوْفِ. قَالُوْا: أَرَأَيْتَ اِنْ لَمْ يَفْعَلْ؟ قَالَ: يُمْسِكُ عَنِ الشَّرِّ فَاِنَّهَا صَدَقَةٌ
 

Setiap muslim harus bersedekah. Para sahabat bertanya: “Wahai Nabi Allah, bagaimana dengan orang yang tidak memiliki harta?”. Beliau bersabda: “Bekerjalah dengan tangannya sehingga ia bermanfaat bagi dirinya lalu bersedekah”. Mereka bertanya lagi: “Bagaimana kalau ia tidak punya?”. Beliau bersabda: “Membantu orang yang membutuhkan lagi meminta pertolongan”. Mereka bertanya lagi: “Kalau tidak bisa?”. Beliau bersabda: “Hendaklah ia melakukan kebajikan dan menahan diri dari kejahatan, karena keduanya merupakan sebaik-baik sedekah baginya (HR. Bukhari).
 

Usaha yang kita lakukan adalah yang halal sehingga kita tidak mengemis, karena mengemis itu hanya menjatuhkan harga diri kita dihadapan manusia, hal ini tercermin dalam satu hadits Rasulullah saw yang memuji orang yang berusaha secara halal meskipun harus bekerja keras dengan hasil yang tidak banyak, beliau bersabda:

َلأَنْ يَحْمِلَ الرَّجُلُ حَبْلاً فَيَحْتَطِبَ بِهِ, ثُمَّ يَجِيءَ فَيَضَعَهُ فِى السُّوْقِ, فَيَبِيْعَهُ ثُمَّ يَسْتَغْنِى بِهِ, فَيُنْفِقُهُ عَلَى نَفْسِهِ خَيْرٌلَهُ مِنْ اَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ, اَعْطَوْهُ اَوْمَنَعُوْهُ.
 
Seseorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya, maka itu lebih baik dari seseorang yang meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak (HR. Bukhari dan Muslim).
 

2. Membantu Orang Lain.
 

Dalam hidup ini kita pasti membutuhkan pertolongan orang lain, cepat atau lambat, sehebat apapun kita. Bahkan semakin tinggi kedudukan seseorang dan semakin banyak hartanya tingkat ketergantungannya pada orang lain semakin besar, karenanya tidak pantas kita berlaku sombong hanya karena kita memiliki sedikit kelebihan. Dalam Islam, kita amat ditekankan untuk melakukan apa yang disebut dengan ta’awun atau tolong menolong (kerjasama) yang dibingkai dalam kebaikan dan ketaqwaan, bukan dalam dosa atau kemaksiatan, Allah swt berfirman: dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran dan bertaqwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (QS Al Maidah [5]:2).
 

Ketika kita mampu memberikan pertolongan atau bantuan kepada orang lain, maka kitapun harus melakukannya dengan niat yang ikhlas karena Allah swt, sekecil apapun bentuk bantuan yang bisa kita berikan, misalnya saja kendaraan seseorang mengalami kerusakan di jalan raya dan harus didorong untuk menghidupkannya lagi, maka kitapun ikut mendorongnya, itu juga sedekah namanya. Ada pula orang yang membawa barang yang berat untuk dinaikkan ke kendaraan dan ia tidak mampu mengangkatnya sehingga kita membantunya, maka itu juga termasuk sedekah. Begitulah seterusnya dalam segala bentuk kebaikan dalam rangka membantu orang lain, Rasulullah saw bersabda:

يُعِيْنُ الرَّجُلَ فِى دَابَّتِهِ فَيَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ يَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ
 
Membantu orang lain pada hewan kendaraannya untuk membawanya atau mengangkat barangnya adalah sedekah (HR, Bukhari dan Muslim)
 

3. Amar Makruf Nahi Munkar.
 

Makruf adalah sesuatu yang dikenal, kebaikan disebut makruf karena sebenarnya setiap orang sudah nengetahui atau mengenal tentang kebaikan, namun orang yang sudah tahu tentang kebaikan ternyata belum tentu melaksanakan kebaikan itu, karenanya kebaikan harus diperintahkan untuk melaksanakannya, inilah yang disebut dengan amar makruf, sedangkan keburukan, kemaksiatan dan kebathilan merupakan sesuatu yang tidak disukai manusia, mereka mengingkarinya. Tapi karena manusia kadangkala dikuasai oleh hawa nafsu, maka apa yang sebenarnya tidak disukai justeru dilakukannya, karenanya harus dicegah. Inilah yang disebut dengan nahi munkar (mencegah kemunkaran).
 

Bila kita melaksanakan amar makruf (memerintahkan kebaikan) dan nahi munkar (mencegah kemunkaran), di dalam hadits di atas hal ini termasuk sedekah, bahkan ia terjamin masuk ke dalam surga sebagaimana disebutkan dalam satu hadits:

سَأَلْتُ أَبَا ذَرٍّ, قُلْتُ: دُلَّنِى عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلَ الْعَبْدُ بِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ. قَالَ: سَأَلْتُ عَنْ ذَلِكَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, قَالَ: يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ. قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ, إِنَّ مَعَ اْلإِيْمَانِ عَمَلاً؟ قَالَ: يَرْضَخُ مِمَّا رَزَقَهُ اللهُ. قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ, أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فَقِيْرًا لاَ يَجِدُ مَا يَرْضَخُ بِهِ؟ قَالَ: يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ. قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ, أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَيِيًّا لاَ يَسْتَطِيْعُ أَنْ يَأْمُرَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ؟ قَالَ: يَصْنَعُ ِلأَخْرَقَ. قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ أَخْرَقَ لاَ يَسْتَطِيْعُ أَنْ يَصْنَعَ شَيْئًا؟. قَالَ: مَا تُرِيْدُ أَنْ يَكُوْنَ فِى صَاحِبِكَ مِنْ خَيْرٍ؟ يُمْسِكُ أَنْ أَذَى النَّاسِ. فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ, إِذَا فَعَلَ ذَلِكَ دَخَلَ الْجَنَّةَ؟ قَالَ: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَفْعَلُ خَصْلَةً مِنْ هَؤُلآءِ, إِلاَّ أَخَذَتْ بِيَدِهِ حَتَّى تُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ
 
Saya pernah bertanya kepada Abu Dzar, saya berkata: “Tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang apabila seorang hamba melakukannya, niscaya ia masuk surga. Ia berkata: “Saya telah menanyakan tentang hal ini kepada Rasulullah saw, maka beliau bersabda: “Beriman kepada Allah dan hari akhir”. Saya berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya bersama iman itu apakah ada amal?”. Ia bersabda: “Menyedekahkan sebagian dari apa yang dikaruniakan Allah kepadanya”. Saya berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana kalau ia adalah seorang yang fakir, tidak menemukan sesuatu untuk disedekahkan?”. Beliau menjawab: “Menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar”. Ia menuturkan: saya berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana kalau dia adalah seorang yang lemah, tidak bisa mengajak kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar?”. Beliau menjawab: “Berbuat sesuatu untuk orang yang tidak pandai”. Ia berkata: “Bagaimana kalau dia sendiri yang seorang yang tidak pandai dan tidak bisa berbuat sesuatu?”. Beliau menjawab: “Menolong orang yang tertindas”. Ia berkata lagi: “Bagaimana kalau dia seorang yang lemah dan tidak mampu menolong orang yang tertindas?”. Beliau menjawab: “Apakah kamu tidak menghendaki ada kebaikan pada sahabatmu?. Menahan diri dari perbuatan mengganggu orang lain”. Maka saya berkata: “Ya Rasulullah, apabila ia melakukan hal itu, apakah ia masuk surga?”. Beliau menjawab: “Tiada seorang muslimpun yang melakukan salah satu dari perkara-perkara di atas, melainkan perkara tersebut akan memegang tangannya (di hari kiamat kelak) hingga memasukkannya ke surga (HR. Thabrani, Ibnu Hibban dan Hakim).
 

Jaminan surga untuk orang yang melaksanakan amar makruf dan nahi munkar merupakan sesuatu yang sudah semestinya karena hal ini merupakan keberuntungan dalam hidup di dunia maupun di akhirat, Allah swt berfirman: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung (QS Ali Imran [3]:104).
 

Manakala kita telah melaksanakan amar makruf dan nahi munkar, maka hal ini menjadi salah satu sebab yang membuat kita mendapatkan rahmat Allah swt sebagaimana firman-Nya: Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS At Taubah [9]:71).
 

Amar makruf dan nahi munkar termasuk sedekah disebutkan juga dalam satu hadits dari Rasulullah SAW:

وَأْمُرُكَ بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهْيُكَ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ
 
Amar makruf dan nahi munkarmu adalah sedekah (HR. Timridzi dan Ibnu Hibban).
 

Dengan demikian, setiap orang punya peluang yang sama untuk bersedekah meskipun harta tidak dimilikinya, semoga kita mau bersedekah dengan potensi yang ada pada diri kita masing-masing.
 


Drs. H. Ahmad Yani
Email: ayani_ku@yahoo.co.id
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Membangun Kesalehan Individu dan Sosial

“Hai orang-orang yang beriman, rukulah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan” (Al-Hajj: 77)

Ayat ini merupakan ayat kedua terakhir dari surah yang unik dan istimewa, surah Al-Hajj. Dikatakan surat yang unik karena sebagian ulama tafsir menggolongkan surat ini ke dalam kategori surah Makkiyah, namun sebagian yang lain malah sebaliknya menggolongkannya ke dalam kategori Surah Madaniyah. Surah ini juga unik karena di dalamnya terdapat dua ayat sajdah, yaitu ayat 18 dan ayat ini, seperti yang difahami dari sebuah riwayat dari Uqbah bin Amir, “keutamaan surah Al-Hajj adalah karena terdapat dua ayat sajdah padanya. Barangsiapa yang tidak bersujud pada keduanya, maka janganlah ia membaca surah ini (H.R. At-Tirmidzi dan Abu Daud).

Ayat ini menggambarkan secara ringkas manhaj Allah untuk manusia dan beban taklif bagi mereka agar mendapatkan keselamatan dan kemenangan. Ia diawali dengan perintah untuk ruku dan sujud yang merupakan gambaran gerakan sholat yang tampak dan jelas. Dilanjutkan dengan perintah untuk beribadah secara umum yang meliputi segala gerakan, amal dan pikiran yang ditujukan hanya kepada Allah. Sehingga segala aktivitas manusia bisa beralih menjadi ibadah bila hati ditujukan hanya kepada Allah. Bahkan kenikmatan-kenikmatan   dari  kelezatan   hidup dunia yang dirasakannya dapat bernilai ibadah yang ditulis sebagai pahala amal baik.

Ayat ini ditutup dengan perintah berbuat baik secara umum dalam hubungan horizontal dengan manusia setelah perintah untuk membangun hubungan vertikal dengan Allah dalam sholat dan ibadah lainnya. Maka perintah ibadah dimaksudkan agar umat Islam selalu terhubung dengan Allah sehingga kehidupannya berdiri di atas pondasi yang kukuh dan jalur yang dapat membawa kepadaNya. Sedangkan perintah untuk melakukan kebaikan dapat membangkitkan kehidupan yang istiqamah dan kehidupan masyarakat yang penuh dengan suasana kasih sayang.

Perintah ini dipertegas kembali di akhir surah Al-Hajj, bahwa umat Islam akan mampu mempertahankan eksistensinya sebagai umat pilihan dan sebagai saksi atas umat yang lain manakala mampu membina hubungan baik dengan Allah dan membina hubungan baik sesama manusia, “Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu , dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong”. (Al-Hajj: 78)

Pada   ayat   di atas, Allah SWT memberi perintah kepada orang beriman agar mampu membangun kesolehan individual dan sosial secara bersamaan agar senantiasa dalam kemenangan. Ruku` dan sujud merupakan cermin tertinggi dari pengabdian seseorang kepada Allah, sedang “perbuatlah kebaikan” merupakan indikasi kesolehan sosial.

Secara redaksional dalam urutan perintah ayat di atas, ternyata Allah mendahulukan kesolehan individu dari kesolehan sosial. Ini berarti bahwa untuk membangun kesolehan sosial, harus dimulai dengan kesolehan individu. Atau kesolehan individu akan memberi kekuatan untuk soleh juga secara sosial.    Bahkan seluruh perintah beribadah kepada Allah adalah dimaksudkan agar lahir darinya kesolehan sosial, seperti solat misalnya, bagaiman ia bisa mencegah dari perbuatan keji dan munkar, “dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar”. (Al-Ankabut: 45)Kisah yang diabadikan oleh Rasulullah saw dalam sebuah haditsnya bagaimana seorang wanita yang soleh secara individu yang diwujudkan dengan ibadah sholat, puasa dan ibadah mahdhah lainnya, namun ternyata Rasulullah menyatakan bahwa ia dalam neraka karena ternyata kesolehan itu tidak membawanya menuju kesolehan sosial, bahkan ia cenderung tidak mampu menjaga lisannya dari tidak melukai hati orang lain.

Dalam tataran tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, maka terdapat beberapa hubungan dan korelasi (munasabah) yang sangat erat antara kesholehan secara individu dan sosial dengan nilai-nilai mulia dari ajaran Islam. Untuk menggapai predikat ihsan misalnya, seseorang dituntut untuk mampu sholeh secara individu dan sosial yang diwakili dengan sholat malam dan berinfaq: “Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian”. (Adz-Dzariyat: 16-19).

Ibnu Asyur mengomentari ayat ini dengan menjelaskan bahwa dua bentuk amal inilah yang sangat berat untuk dilakukan, karena: 

Pertama, bangun malam merupakan sesuatu yang sangat berat karena mengganggu istirahat seseorang. Padahal amal ini merupakan amal yang paling utama untuk membangun kesolehan individu seseorang. 

Kedua, amal yang melibatkan harta  terkadang sangat sukar untuk dipenuhi karena manusia pada dasarnya memiliki sifat kikir dan sangat mencintai hartanya. Disinilah Allah menguji kesolehan social seseorang dengan memintanya untuk mengeluarkan ssebagian harta untuk mereka yang membutuhkan.


Nilai yang lain yang terkait dengan dua kesholehan ini adalah bahwa sebab utama yang paling banyak menjerumuskan seseorang kedalam neraka adalah karena tidak mampu membentengi diri dengan dua kesholehan tersebut, seperti pernyataan jujur penghuni neraka yang diabadikan oleh Allah dalam firmanNya: "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?". Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya”. (Al-Muddatsir: 42-45)

Resep agar tidak bersifat keluh kesah lagi kikir juga sangat terkait dengan kemampuan seseorang membangun dalam dirinya dua kesholehan secara simultan. Allah memberi jaminan, “Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)”(Al-Ma`arij: 22-25).

Betapa banyak dari umat ini yang hanya mementingkan soleh secara sosial tetapi lupa akan hubungan baik dengan Allah swt.Sebaliknya banyak juga yang soleh secara individu namun ketika berhadapan dengan sosial, ia larut dan tidak mampu membangun kesolehan di tengah-tengah mereka. Sungguh umat ini sangat membutuhkan kehadiran komunitas yang sholeh secara individu, dalam arti mampu menjaga hubungan baik dengan Allah. Malah sholeh secara sosial dalam arti mampu memelihara hubungan baik dan memberi kebaikan dan manfaat yang besar bagi kemanusiaan.


DR. Attabik Luthfi
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Populer Sepekan

Untaian Doa


Doa Pagi dan Petang

اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ اَلْمَصِيرُ

Ya Allah dengan kekuasaan-Mu aku memasuki pagi dengan kekuasaan-Mu aku memasuki petang dengan kekuasaan-Mu aku hidup dengan kekuasaan-Mu aku mati Dan kepada-Mu-lah tempat berpulang.

اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي اَللّٰهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي وَاحْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي وَمِنْ فَوْقِي وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي

Ya Allah aku memohon keselamatan dari-Mu dalam agamaku duniaku keluargaku dan hartaku. Ya Allah tutupilah auratku amankanlah kekhawatiranku jagalah diriku dari depanku belakangku sebelah kananku sebelah kiriku dan dari atasku. Aku berlindung dengan keagungan-Mu dari bahaya yang datang dari bawahku

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Gedung Seni dan Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2010. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger